A.
Latar
Belakang
Pada
tahun 1956, Roitt dkk untuk pertama kalinya menemukan antibodi terhadap
tirogobulin, yang bertindak sebagai autoantigen, dalam serum penderita penyakit
Hashimoto. Pada tahun yang sama Adams dan Purves menemukan pula stimulator
tiroid abnormal pada penderita penyakit Graves yang kerjanya mirip TSH, disebut
sebagai long-acting thyroid stimulator (LATS). Baru sekitar 20 tahun
kemudian diketahui bahwa LATS adalah suatu autoantibodi yang mampu merangsang
reseptor TSH (thyrotropin receptor antibodies = TRAb) untuk
menghasilkan hormon tiroid tiroksin dan triiodotironin. Pada tahun-tahun
berikutnya ditemukan pula berbagai antibodi antitiroid lainnya.
Penyakit
Graves dan Hashimoto merupakan penyakit tiroid autoimun (Autoimmune Thyroid
Disease = AITD; Penyakit Tiroid Autoimun = PTAI) yang paling sering
ditemukan di klinik, tergolong dalam penyakit autoimun bersifat
organ-specific. Varian lain PTAI adalah tiroiditis atrofik,
tiroiditis postpartum, tiroiditis karena obat (drug-induced
thyroiditis) seperti amiodarone dan interferon-α, tiroiditis yang
menyertai sindrom autoimun poliglandular. Sering pula ditemukan
antibodi antitiroid (anti-TPO dan anti-Tg) dalam serum tanpa
gejala klinik. Temuan-temuan tersebut memunculkan paradigma baru
tentang penyakit autoimun; PTAI yang merupakan penyakit autoimun klasik
sering dijadikan model untuk memahami patogenesis penyakit autoimun
organ-specific lainnya.
B.
Patogenesis
PTAI
PTAI
adalah penyakit yang kompleks, dengan faktor penyebab multifaktorial berupa
interaksi antara gen yang suseptibel dengan faktor pemicu lingkungan, yang
mengawali respons autoimun terhadap antigen tiroid. Walaupun etiologi pasti
respons imun tersebut masih belum diketahui, berdasarkan data epidemiologik
diketahui bahwa faktor genetik sangat berperan dalam patogenesis PTAI; pada
penyakit Graves diperkirakan peran faktor genetik sekitar 79%, sisanya 21% dari
faktor lingkungan (Prummel et al, 2004).
Selanjutnya
diketahui pula pada PTAI respons seluler dan humoral bekerja bersamaan dengan
sasaran kelenjar tiroid. Kerusakan seluler terjadi karena limfosit T
tersensitisasi (sensitized T-lymphocyte) dan/atau antibodi
antitiroid berikatan dengan membran sel tiroid, mengakibatkan lisis sel dan
reaksi inflamasi. Sedangkan gangguan fungsi terjadi karena interaksi antara
antibodi antitiroid yg bersifat stimulator atau blocking dengan
reseptor di membran sel tiroid yang bertindak sebagai autoantigen (Tomer et al,
2003).
Gambar
dibawah memperlihatkan secara skematik mekanisme terjadinya PTAI, diawali
paparan faktor pemicu lingkungan pada individu yang memiliki gen suseptibel.
Interaksi antara selsel imun dengan autoantigen tiroid menimbulkan penyakit
Graves atau tiroiditis Hashimoto atau pembentukan antibodi antitiroid tanpa
gejala klinik (asymptomatic autoimmune thyroid disease).
C.
Faktor
Genetik
Gen yg terlibat dalam patogenesis PTAI adalah gen
yang mengatur respons imun seperti major histocompatibility complex
(MHC), reseptor sel T, serta antibodi, dan gen yang mengkode (encoding)
autoantigen sasaran seperti tiroglobulin, TPO = thyroid peroxidase,
transporter iodium, TSHR = TSH Receptor. Dari sekian banyak gen
kandidat, saat ini baru enam gen yang dapat diidentifikasi, yaitu : CD40, CTLA-4
(Cytotoxic T Lymphocyte Antigen-4), HLA-DR, protein
tyrosinephosphatase-22, thyroglobulin, dan TSHR. CD40, anggota TNF-R
receptor berperan penting dalam aktivasi sel B, menginduksi proliferasi sel
B dan sekresi antibodi. Pada penyakit Graves terjadi up-regulation ekspresi
CD40 di kelenjar tiroid; CD40 merupakan gen yang suseptibel untuk penyakit Graves,
yang diekspresikan dan fungsional di tirosit (Ridgway et al, 2007).
Cytotoxic T lymphocyte antigen-4
(CTLA-4) merupakan molekul kostimulator yang terlibat dalam interaksi sel T
dengan Antigen Presenting Cells (APC). APC akan mengaktivasi sel T dengan
mempresentasikan peptida antigen yang terikat protein HLA kelas II pada
permukaan reseptor sel T. Sinyal kostimulator berasal dari beberapa protein
yang diekspresikan pada APC (seperti B7-1, B7-2, B7h, CD40), dan berinteraksi
dengan reseptor (CD28, CTLA-4, dan CD40L) pada permukaan limfosit T CD4+ pada
waktu presentasi antigen. CTLA-4 dan CD40 merupakan molekul kostimulator
non-spesifik, yang dapat meningkatkan suseptibilitas terhadap PTAI dan proses
autoimun lain, tidak hanya pada penyakit Graves. CTLA-4 berasosiasi dan terkait
dengan berbagai bentuk PTAI (penyakit Graves, tiroiditis Hashimoto, dan pembentukan
antibodi antitiroid), dan dengan penyakit autoimun lain seperti diabetes tipe
1, penyakit Addison, dan myasthenia gravis (Tomer et al, 2003).
Pada ras Kaukasus penyakit Graves berasosiasi dengan
HLA-B8. Kemudian diketahui bahwa asosiasinya lebih kuat dengan HLA-DR3 yang
mempunyai linkage disequilibrium dengan HLA-B8. Pada bangsa Jepang
terdapat asosiasi dengan HLA-B35, pada bangsa Cina dengan HLA-Bw46, dan pada
keturunan Afrika-Amerika dengan HLA DRB3*0202 (Tomer et al, 2003).
Berbeda dengan
penyakit Graves, asosiasi antara tiroiditis Hashimoto dengan antigen HLA tidak
begitu jelas. Hal ini menyangkut masalah definisi penyakit tiroditis Hashimoto yang
sering kontroversial. Spektrum klinik tiroiditis Hashimoto bervariasi mulai
dari hanya ditemukan antibodi antitiroid dengan infiltrasi limfositik fokal
tanpa gangguan fungsi (asymptomatic autoimmune thyroiditis), sampai
pembesaran kelenjar tiroid (struma) atau tiroiditis atrofik dengan kegagalan
fungsi tiroid. Beberapa peneliti melaporkan asosiasi antara tiroidits Hashimoto dengan HLA-DR3 dan HLA-DQw7 pada ras Kaukasus.
Pada non-Kaukasus dilaporkan asosiasi antara tiroiditis Hashimoto dengan HLA-DRw53
pada bangsa Jepang dan dengan HLA-DR9 pada bangsa Cina (Tomer et al, 2003)
D.
Faktor
Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan telah dapat diidentifikasi
berperan sebagai penyebab penyakit tiroid autoimun, di antaranya : berat badan lahir
rendah, kelebihan dan kekurangan iodium, defisiensi selenium, paritas,
penggunaan obat kontrasepsi oral, jarak waktu reproduksi, mikrochimerisme
fetal, stres, variasi musim, alergi, rokok, kerusakan kelenjar tiroid akibat
radiasi, serta infeksi virus dan bakteria. Di samping itu penggunaan obatobat seperti
lithium, interferon-α, amiodarone dan Campath-1H, juga meningkatkan risiko
autoimunitas tiroid (Prummel et al, 2004).
Berat badan lahir bayi rendah merupakan faktor
risiko beberapa penyakit tertentu seperti penyakit jantung khronik; kekurangan
makanan selama kehamilan dapat menyebabkan intoleransi glukosa pada kehidupan
dewasa, serta rendahnya berat thymus dan limpa mengakibatkan menurunnya sel T
supresor. Mungkin ada faktor intrauterin tertentu yang menghambat pertumbuhan
janin, yang merupakan faktor risiko lingkungan pertama yang terpapar pada janin
untuk terjadinya PTAI di kemudian hari (Prummel et al, 2004).
Asupan iodium
mempengaruhi prevalensi hipo- dan hiper-tiroidi. Hipotiroidi lebih sering ditemukan
di daerah cukup iodium dibandingkan dengan daerah kurang iodium, dan prevalensi
tirotoksikosis lebih tinggi di daerah kurang iodium. Hipertiroidi Graves lebih
sering ditemukan di daerah cukup iodium, dan antibodi anti-TPO sebagai petanda
ancaman kegagalan tiroid lebih sering ditemukan di daerah kurang iodium. Asupan
iodium berlebihan dapat menyebabkan disfungsi tiroid pada penderita yang mempunyai
latar belakang penyakit tiroiditis autoimun. Kelebihan iodium dapat menyebabkan
hipotiroidi atau goiter akibat gagal lepas dari efek Wolf-Chaikoff. Tetapi bila
sebelumnya telah ada nodul autonom fungsional atau bentuk subklinik penyakit Graves,
asupan iodium berlebihan akan menginduksi terjadinya hipertiroidi (efek
Jod-Basedow). Pada kedua fenomena tersebut diduga terjadi destruksi kelenjar
tiroid dan presentasi antigen tiroid pada sistem imun, yang pada gilirannya
akan menimbulkan reaksi autoimun. Oleh karena itu iodium sebenarnya merupakan faktor risiko terjadinya PTAI (Prummel et al, 2004).

Selenium merupakan trace element yang
esensial untuk síntesis selenocysteine, yang juga disebut sebagai 21st
amino acid. Selenium mempengaruhi sistem imun; defisiensi selenium
akan menyebabkan individu lebih rentan terhadap infeksi virus seperti
virus Coxsackie, mungkin karena limfosit T memerlukan selenium. Di
samping itu, selenium merupakan pula suatu antioksidan dan mengurangi
pembentukan radikal bebas. Selenium berperan penting dalam sintesis
hormon tiroid, karena dua enzim yaitu selenoprotein deiodinase dan gluthatione
peroxidase, berperan dalam produksi hormon tiroid. Kekurangan selenium
dapat meningkatkan angka keguguran dan kematian akibat kanker (cancer
mortality rate). Kadar selenium rendah di dalam darah akan
meningkatkan volume tiroid dan hipoekogenisitas, suatu petanda
adanya infiltrasi limfosit. Dari suatu penelitian dilaporkan pemberian
sodium selenite 200 ug (peneliti lain memberikan 200 ug selenium
methionine) pada penderita hipotiroidi subklinik akan menurunkan titer
antibodi anti-TPO serta juga meningkatkan kualitas hidup, tanpa
mempengaruhi status hormon tiroid (Prummel et al, 2004).
Penyakit autoimun yang organ
specific jauh lebih sering ditemukan pada wanita. Penyakit Graves
dan tiroiditis Hashimoto 5-10 kali lebih sering ditemukan pada
wanita dibandingkan pada pria. Alasannya belum jelas, tapi faktor
genetik termasuk faktor hormonal pasti berperan (Prummel et al, 2004).
Stress mempengaruhi
sistem imun melalui jaringan neuroendokrin. Saat stress sumbu
hypothalamic-pituitaryadrenal (HPA) akan diaktivasi, menimbulkan efek
imunosupresif. Stress dan kortikosteroid mempunyai pengaruh berbeda
terhadap sel-sel Th1 dan Th2, mengarahkan sistem imun menjadi
respons Th2, yang akan menekan imunitas seluler dan memfasilitasi keberadaan
virus tertentu (seperti Coxsackie B), sedangkan imunitas humoral meningkat.
Inilah yang dapat menjelaskan mengapa penyakit autoimun tertentu
seringkali didahului oleh stress, dan salah satu contohnya adalah penyakit
Graves.
Suatu penelitian
prospektif melaporkan ada 4 kelompok kepribadian (hypochondria,
depression, paranoia, dan mental fatigue) yang terkait dengan
tingkat kekambuhan penyakit Graves setelah pengobatan antitiroid;
kehidupan yang penuh ketegangan (stress) berkorelasi dengan titer
antibodi anti-TSH (TRAb). Belum diketahui apakah penyakit Hashimoto juga
terkait dengan faktor stress (Prummel et al, 2004).
Faktor
infeksi baik virus maupun bakteri juga berperan dalam patogenesis PTAI.
Ada tiga kemungkinan mekanisme agen infeksi bertindak sebagai faktor
pencetus PTAI. Rokok, selain merupakan faktor risiko penyakit jantung
dan kanker paru, juga mempengaruhi sistem imun. Merokok akan
menginduksi aktivasi poliklonal sel B dan T, meningkatkan produksi Interleukin-2
(IL-2), dan juga menstimulasi sumbu HPA. Merokok akan meningkatkan risiko
kekambuhan penyakit Graves serta eksaserbasi oftalmopatia setelah
pengobatan dengan Iodium radioaktif. Merokok juga akan menurunkan kemangkusan
radioterapi dan pengobatan oftalmopatia dengan kortikosteroid (Prummel
et al, 2004).
E.
Autoantigen
dan Autoantibodi Tiroid pada PTAI
PTAI
menyebabkan kerusakan seluler dan perubahan fungsi tiroid melalui mekanisme
imun humoral dan seluler. Kerusakan seluler terjadi saat limfosit T yang
tersensitisasi (sensitized) atau
autoantibodi berikatan dengan membran sel, menyebabkan lisis sel dan reaksi
inflamasi. Perubahan fungsi tiroid terjadi karena kerja autoantibodi yang
bersifat stimulator atau blocking pada reseptor di membran sel.
Ada tiga autoantigen spesifik yang dominan pada PTAI yaitu thyroid
peroxidase (TPO), tiroglobulin dan thyrotropin receptor (TSHR). TPO,
yang dulu disebut sebagai ”thyroid microsomal antigen”, merupakan enzim
utama yang berperan dalam hormogenesis tiroid. Masih belum jelas apakah
autoantibodi TPO atau TPO-specific T cells merupakan penyebab utama
inflamasi tiroid. Antibodi anti-TPO tidak menghambat aktivitas enzimatik TPO, oleh
karena itu bila antibodi tersebut berperan pada inflamasi tiroid, hanya sebatas
sebagai petanda (marker) penyakit dan tidak berperan langsung dalam
terjadinya hipotiroidi. Di lain pihak beberapa studi menduga antibodi anti-TPO
mungkin bersifat sitotoksik terhadap tiroid; antibodi anti-TPO terlibat dalam
proses destruksi jaringan yang menyertai hipotiroidi pada tiroiditis Hashimoto
dan tiroiditis atrofik (Tomer et al, 1993).

Pada Gambar 4 diperlihatkan perubahan kadar
antibodi anti-TPO yang mendahului terjadinya disfungsi tiroid pada individu
dengan predisposisi genetik yang dipicu faktor lingkungan, sejalan dengan
bertambahnya waktu (umur) (Anonim, 2003).
Peranan antibodi
anti-Tg dalam PTAI belum jelas; di daerah cukup iodium, penentuan antibodi
anti-Tg dilakukan sebagai pelengkap penentuan kadar Tg, karena (bila ada)
antibodi anti-Tg akan menganggu metode penentuan kadar Tg. Sedangkan di daerah
kurang iodium, penentuan kadar antibodi anti-Tg berguna untuk mendeteksi PTAI pada
penderita struma nodosa dan pemantauan hasil terapi iodida pada struma endemik (Anonim,
2003).
Berbeda dengan
tiroiditis pada model hewan coba, respons autoimun terhadap tiroglobulin -
protein yang paling banyak di kelenjar tiroid (autoantigen) ternyata tidak
penting dalam proses autoimun pada manusia, Sodium-iodide symporter (NIS
= NaI symporter), yang juga diduga berpotensi sebagai autoantigen,
ternyata tidak berperan dalam proses autoimun (McLachlan et al, 2001).
Seperti telah
dijelaskan, pada penyakit Graves terjadi respons humoral terhadap TSHR. Pada
keadaan ini autoantibodi yang bekerja menyerupai TSH, akan mengaktivasi TSHR
untuk memproduksi hormon tiroid secara berlebihan dan menyebabkan hipertiroidi.
Autoantibodi TSHR dapat bersifat stimulator (TSAb) yang mengaktivasi TSHR dan blocking
(TSBAb) yang menghambat pengikatan TSH dalam mengaktivasi TSHR (McLachlan
et al, 2001).
Dapat terjadi fluktuasi
fungsi tiroid berupa konversi dari hiper- menjadi hipo-tiroidi, keadaan yang
disebut metamorphic thyroid autoimmunity. Contohnya konversi menjadi
hiper-tiroidi Graves pada penderita yang sebelumnya menderita hipotiroidi karena
penyakit Hashimoto, dan konversi dari tirotoksikosis menjadi eutiroid secara
spontan pada penderita Graves; beberapa mekanisme mungkin berperan. Hipotiroidi
setelah pengobatan penyakit Graves diduga terjadi melalui dua cara yaitu
destruksi akibat proses autoimun dan aktivitas TSBAb yang lebih dominan (Emerson
et al, 2008).
Dalam kepustakaan,
terdapat beragam nomenklatur antibodi antitiroid, khususnya terhadap TSHR (Thyroid
Stimulating Hormon Receptor). Misalnya dikenal istilah LATS = Long
Acting Thyroid Stimulator; LATS-P = Long Acting Thyroid
Stimulator-Protector; TSI=Thyrotropin Stimulating Immunoglobulin; TBII
= Thyrotropin Binding Inhibitor Immunoglobulin; TSBAb = Thyroid
Stimulating Blocking Antibody; dan TRAb=Thyrotropin Receptor Antibody)
(Amino, 1988)
Berdasarkan fungsinya antibodi
antireseptor TSH dikelompokkan menjadi (Hennemann et al, 1985) :
1. Thyroid Stimulating Immunoglobulin (TSI), meningkatkan
sintesis hormon tiroid;
2. TSI-blocking immunoglobulin,
menghambat TSI (atau TSH) dalam merangsang sintesis hormon tiroid;
3. Thyroid Growth Immunoglobulin (TGI), terutama
merangsang pertumbuhan sel folikel;
4. TGI blocking immunoglobulin,
menghalangi TGI (atau TSH) merangsang pertumbuhan seluler (misalnya pada
miksedema).
Aktivitas
berbagai antibodi antireseptor TSH tersebut dapat menjelaskan terjadinya
diskrepansi antara besar atau volume kelenjar tiroid dengan fungsinya; ada
penderita dengan kelenjar tiroid besar tetapi fungsinya normal atau rendah,
atau sebaliknya. Antibodi lain yang juga dapat ditemukan adalah antibodi
terhadap koloid kedua (second colloid antigen), antibodi terhadap
permukaan sel selain reseptor TSH, antibodi terhadap hormon tiroid T dan T4,
serta antibodi terhadap antigen membran otot mata (disebut sebagai ophthalmic
immunoglobulin) (Hennemann et al, 1985).
F.
Apoptosis
Terdapat
bukti-bukti yang menunjukkan bahwa apoptosis berperan dalam PTAI – tiroiditis
Hashimoto dan penyakit Graves. Defek pada CD4(+) CD25(+) T regulatory cells akan
merusak (breaks) toleransi host dan menginduksi produksi abnormal
sitokin yang akan menfasilitasi apoptosis. Terdapat perbedaan mekanisme yang
memediasi proses apoptosis pada HT dan GD, yaitu pada HT akan terjadi destruksi
tirosit sedangkan apoptosis pada GD akan mengakibatkan kerusakan thyroid
infiltrating lymphocytes. Perbedaan mekanisme apoptotik tersebut akan mengakibatkan
dua bentuk respons autotimun berbeda yang akhirnya akan menimbulkan
manfifestasi tiroiditis Hashimoto dan penyakit Graves (Baker et al, 2007).
G.
Sitokin
dan PTAI
Sitokin berperan
penting dalam mengkoordinasikan reaksi imun; sitokin dapat bersumber dari
sistem imun maupun non-imun. Limfosit CD4+ Thelper terdiri dari sel Th1,
terutama memproduksi interferon-γ (IFNγ) dan interleukin-2 (IL-2), yang menimbulkan
respons imun langsung pada sel (cellmediated immunity).
Sebaliknya, sel Th2 menghasilkan terutama IL-4, IL-5, dan IL-13 yang akan
mempromosikan respons imun humoral. Sel Th3 menghasilkan terutama TGFβ yang
mempunyai peranan protektif dan pemulihan dari penyakit autoimun (Weetman et al,
2002).
Sitokin dapat
meningkatkan reaksi inflamasi melalui stimulasi sel T dan B intratiroid dan
menginduksi perubahan pada sel folikel tiroid termasuk upregulasi MHC kelas I
dan II, serta ekspresi molekul adhesi. Sitokin juga merangsang sel folikel
tiroid untuk menghasilkan sitokin, Nitric Oxide (NO) dan Prostaglandin
(PO), yang selanjutnya akan meningkatkan reaksi inflamasi dan destruksi
jaringan. Molekul ini juga memodulasi pertumbuhan dan fungsi sel folikel tiroid,
yang secara langsung akan berimplikasi terhadap disfungsi tiroid (Weetman et al,
2002).
Sitokin mempunyai
peranan pula dalam penyulit ekstratiroid, terutama thyroid-associated
ophthlamopathy (TAO). Sel T terkumpul di jaringan retrobulbar pada penderita
dengan TAO; sel T tersebut akan diaktivasi dan menghasilkan sitokin, yang akan
memperluas proses inflamasi melalui beberapa mekanisme termasuk peningkatan MHC
kelas II, Heat Shock Protein (HSP), molekul adhesi, dan ekspresi TSH-R
di jaringan retrobulbar. Sitokin akan meningkatkan proliferasi fibroblast
secara lokal dan membantu pembentukan sel-sel radang baru, meningkatkan reaksi
inflamasi, serta juga meningkatkan akumulasi matriks ekstraseluler di jaringan
orbita melalui efek stimulatorik pada glycosaminoglycan (GAG) dan produksi
inhibitor metalloproteinase oleh fibroblast retrobulbar. Berdasarkan hal-hal di
atas, memodulasi produksi sitokin atau menghambat kerja sitokin di jaringan
retrobulbar dapat dipertimbangkan untuk menangani oftalmopati yang sampai saat
ini sukar diobati (Weetman et al, 2001).
Pada
Tabel 2 dapat dilihat efek imunologik dan fungsional dari sitokin terhadap sel
folikel tiroid.
H.
Makna
Klinis Penentuan Antibodi Antitiroid
Tiga antibodi yang
paling sering ditentukan kadarnya di klinik adalah TgAb (ATA: anti Tg
antibody), TPOAb (anti TPO antibody), dan TRAb (Thyrotropin Receptor
Antibody); penentuan berbagai antibodi lainnya lebih bersifat minat
akademik. Perlu diketahui bahwa autoantibodi tiroid tidak selalu ditemukan
dalam serum penderita PTAI, antara lain disebabkan oleh sensitivitas metoda assay.
TRAb ditemukan pada
sebagian besar penderita yang pernah atau sedang menderita penyakit Graves.
Selama kehamilan, karena dapat melewati sawar plasenta, TRAb merupakan faktor risiko
disfungsi tiroid fetal maupun neonatal. Prevalensi antibodi antitiroid meningkat
pada penderita penyakit autoimun organ specific lain seperti DM tipe 1
dan anemia pernisiosa, serta juga dengan bertambahnya umur (prevalensi PTAI
meningkat seiring dengan bertambahnya umur) (Anonim, 2003).
Antibodi anti-TPO
merupakan faktor risiko disfungsi tiroid, termasuk tiroiditis postpartum dan
penyulit autoimun akibat penggunaan obat-obat tertentu. Antibodi anti-TPO
merupakan kelainan yang pertama ditemukan pada hipotiroidi akibat tiroiditis
Hashimoto. Walaupun antibodi terhadap reseptor TSH (TRAb) patognomonik untuk
penyakit Graves, antibodi anti-TPO dan anti-Tg ditemukan juga pada penderita
penyakit Graves. Lebih dari 95% penderita tiroiditis Hashimoto dan sekitar 85%
penderita penyakit Graves mempunyai antibodi anti-TPO (Anonim, 2003).
Pada
Tabel 3 tercantum indikasi penentuan kadar antibody anti-TPO menurut
rekomendasi National Academy of Clinical Biochemistry (Anonim,
2003).
Penentuan antibodi
anti-tiroglobulin terutama dilakukan sebagai pelengkap penentuan kadar Tg serum
pada pemantauan hasil pengobatan karsinoma tiroid berdiferensiasi pascaablasi;
antibodi anti-Tg yang positif akan menganggu penentuan kadar tiroglobulin(8).
Antibodi anti-Tg positif pada penderita karsinoma tiroid berdiferensiasi yang
telah dinyatakan sembuh akan menjadi negatif dalam waktu 1-4 tahun, sedangkan
peningkatan kadarnya dapat digunakan sebagai petunjuk awal rekurensi (Anonim,
2003).
Penentuan TRAb berguna
untuk memastikan etiologi penyakit Graves, serta untuk memprediksi terjadinya disfungsi
tiroid fetal atau neonatal pada wanita hamil dengan riwayat atau sedang
menderita penyakit Graves. Bila kadar TRAb tinggi selama trimester ke tiga
kehamilan, maka ada risiko disfungsi tiroid pada anak yang akan dilahirkan. TBII
receptor assay sering digunakan untuk mendeteksi hipertiroidi pada neonatus
karena mengandung TSAb (stimulating) dan pada kasus yang jarang, blocking
antibodies (TBAb/TSBab) yang dapat menyebabkan hipotiroidi selintas pada
1:180,000 neonatus. Disarankan melakukan tes untuk menentukan antibodi yang
bersifat stimulator dan blocking karena ekspresi disfungsi tiroid
mungkin berbeda antara ibu dan bayi (Anonim, 2003).
Daftar Pustaka
Amino,
N. 1988. Autoimmunity and hypothyroidism.
Clin Endocrinol Metab : 2(3):591-617.
Anonim.
2003. The National Academy of Clinical Biochemistry. Laboratory Medicine
Practice Guidelines; Laboratory Support
for the Diagnosis and Monitoring of Thyroid Disease. Thyroid : 13(1):45-56.
Baker,
J.R. et al. 2007. The Role Of Apoptosis
In Thyroid Autoimmunity. Thyroid : 17(10):975-9.
Campbell,
P.N. et al. 1956. Autoantibodies In Hashimoto’s
Disease (Lymphadenoid Goiter). Lancet : 271(6947):820-821.
Emerson,
C.H. 2008. Metamorphic Thyroid
Autoimmunity. Thyroid : 18(10):1035-1037.
Hennemann,
G et al. 1985. Autoimmunity Of Thyroid
Disease. With Emphasis On Grave’s Disease. Neth J Med : 28
McLachlan,
S.M. et al. 2001. Thyroid Autoimmunity.
J Clin Invest : 108:1253-1259.
Prummel,
M.F. et al. 2003. The Environment And
Autoimmune Thyroid Diseases. Eur J Endocrinol : 150:605-618.
Ridgway,
E.C. et al. 2007. Update in Thyroidology.
J Clin Endocrinol Metab : 92:3755-3761.
Tomer,
Y. et al. 1993. Thyroid Disease and
Autoimmunity. Endocrine Rev : 14(1):107-120.