Tulisan ini saya buat setelah memperhatikan kebiasaan dari bapak saya yang mengkonsumsi bawang putih setelah makan makanan berlemak atau berminyak, setelah saya membaca beberapa sumber ternyata bawang putih memiliki khasiat yang luar biasa.
Bawang
putih sebenarnya berasal dari Asia Tengah, di antaranya Cina dan Jepang yang
beriklim subtropik. Dari sini bawang putih menyebar ke seluruh Asia, Eropa, dan
akhirnya ke seluruh dunia. Di Indonesia, bawang putih dibawa oleh pedagang Cina
dan Arab, kemudian dibudidayakan di daerah pesisir atau daerah pantai. Seiring
dengan berjalannya waktu kemudian masuk ke daerah pedalaman dan akhirnya bawang
putih akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Peranannya sebagai bumbu
penyedap masakan modern sampai sekarang tidak tergoyahkan oleh penyedap masakan
modern yang banyak kita temui di pasaran yang dikemas sedemikian menariknya
(Syamsiah dan Tajudin., 2003). Bawang putih (Allium sativum) adalah
herba semusim berumpun yang mempunyai ketinggian sekitar 60 cm. Tanaman ini
banyak ditanam di ladang-ladang di daerah pegunungan yang cukup mendapat sinar
matahari. Batangnya batang semu dan berwarna hijau. Bagian bawahnya
bersiung-siung, bergabung menjadi umbi besar berwarna putih. Tiap siung
terbungkus kulit tipis dan kalau diiris baunya sangat tajam. Daunnya berbentuk
pita (pipih memanjang), tepi rata, ujung runcing, beralur, panjang 60 cm dan
lebar 1,5 cm. berakar serabut. bunganya berwarna putih, bertangkai panjang dan
bentuknya payung.
Klasifikasi Bawang Putih
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Liliales
Suku : Liliaceae
Marga : Allium
Spesies : Allium sativum
Bawang
putih bermanfaat bagi kesehatan karena mengandung unsur-unsur aktif, memiliki
daya bunuh terhadap bakteri, sebagai bahan antibiotik, merangsang pertumbuhan
sel tubuh, dan sebagai sumber vitamin B1. Selain itu, bawang putih mempunyai
nilai gizi yang cukup tinggi, dan mengandung sejumlah komponen kimia yang
diperlukan untuk hidup manusia. Dewasa ini, bawang putih dimanfaatkan sebagai
penghambat perkembangan penyakit kanker karena mengandung komponen aktif, yaitu
selenium dan germanium (AAK, 1998).
Komposisi Kimia Bawang Putih
Bahan
yang terkandung dalam beberapa jenis bawang kadar airnya cukup tinggi, yaitu
antara 63 ml – 90 ml, sedangkan komponen utamanya berupa protein, karbohidrat
dan lemak. Komponen ini merupakan zat organik yang diperlukan untuk pertumbuhan
dan perkembangan tubuh manusia serta untuk kelangsungan hidupnya. Disamping
itu, sebagian besar bawang mengandung zat-zat seperti : kalsium, besi serta
unsur kimia lainnya : bahkan jenis bawang tertentu mengandung vitamin A dan
serat (crude fibre).
Kandungan
zat gizi yang terkandung pada berbagai jenis bawang disajikan pada tabel
berikut :
Tabel 1.
Kandungan Zat Gizi pada Berbagai Jenis Bawang dalam 100 gr bahan :
Diantara
beberapa komponen bioaktif yang terdapat pada bawang putih, senyawa sulfida
adalah senyawa yang banyak jumlahnya. Senyawa-senyawa tersebut antara lain
adalah dialil sulfida atau dalam bentuk teroksidasi disebut dengan alisin. Sama
seperti senyawa fenolik lainnya, alisin mempunyai fungsi fisiologis yang sangat
luas, termasuk di antaranya adalah antioksidan, antikanker, antitrombotik,
antiradang, penurunan tekanan darah, dan dapat menurunkan kolesterol darah.
Data epidemiologis juga menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara konsumsi
bawang putih dengan penurunan penyakit kardiovaskuler, seperti aterosklerosis
(penumpukan lemak), jantung koroner, dan hipertensi. (Wikipedia, 2009).
Manfaat Bawang Putih
Bawang
putih termasuk tanaman rempah yang bernilai ekonomi tinggi karena memiliki
beragam kegunaan. Tidak hanya di dapur, bawang putih memegang peranan sebagai
tanaman apotek hidup yang sanggup berkiprah. Manfaat utama bawang putih adalah
sebagai bumbu penyedap masakan yang membuat masakan menjadi beraroma dan
mengundang selera. Meskipun kebutuhan untuk bumbu masakan hanya sedikit, namun
tanpa kehadirannya masakan akan terasa hambar (Tim Penulis Swadaya, 1999).
Zat-zat kimia yang terdapat pada bawang putih adalah Allicin yang berperan memberi aroma pada bawang putih
sekaligus berperan ganda membunuh bakteri gram positif maupun bakteri gram
negatif karena mempunyai gugus asam amino para amino benzoat, Sedangkan Scordinin
berupa senyawa kompleks thioglosida yang berfungsi sebagai antioksidan
(Yuwono, 1991).
Tidak
seperti antibiotika sintetis, daya antibiotika bawang putih bekerja ke seluruh
tubuh, bukan hanya ditempat yang sakit. Sebagai antibiotik alami, bawang putih
bisa dimakan langsung dalam bentuk mentah, bisa pula direbus terlebih dahulu
atau dicampurkan ke dalam masakan. Bawang putih digunakan sebagai obat dalam
seperti : mengurangi kadar kolesterol dalam darah, mencegah serangan jantung,
menstabilkan sistem pencernaan yang terganggu, meningkatkan daya tahan tubuh,
mengobati nyeri sendi, menghambat penuaan sel otak, mengurangi gejala diabetes
melitus, asma dan lain sebagainya. Sebagai obat luar digunakan untuk mengobati
jerawat, bisul, sakit gigi, infeksi jamur pada kaki, infeksi telinga, mengobati
panu, kadas, kurap dan lain sebagainya (Syamsiah dan Tajudin., 2003).
Kandungan Senyawa Aktif
o
Allicin
Allicin adalah komponen aktif utama bawang
putih. Pertama kali dilaporkan oleh CJ Cavallito pada tahun 1944, allicin
adalah bahan utama yang bertanggung jawab atas spektrum luas dari aktivitas
anti-bakteri dalam bawang putih. Penelitian juga menunjukkan bahwa allicin
berperan menurunkan kolesterol, anti-pembekuan darah, anti-hipertensi, anti-kanker, antioksidan dan anti-mikroba. Karena
efek anti-jamurnya, bawang putih telah lama digunakan sebagai obat rakyat untuk
mengobati infeksi kulit, antara lain kaki atlet (kutu air).
Sifat kimia bawang putih sangat kompleks. Bawang
putih segar mengandung enzim (yang disebut allinase) dan alliin,
yang terkandung di bagian berbeda dari tanaman itu. Struktur unik itu dirancang
sebagai mekanisme pertahanan terhadap mikroba patogen tanah. Ketika jamur atau
patogen tanah lainnya menyerang bawang putih, membran kompartemennya hancur,
dan dalam waktu 10 detik, semua alliin akan diubah menjadi senyawa
baru yang disebut allicin. Ini adalah senjata yang sangat efisien
karena sistem pertahanan bawang putih hanya aktif di lokasi spesifik untuk
jangka waktu yang singkat, sedangkan allinasedan alliin
lainnya tetap disimpan dalam kompartemen masing-masing dan tersedia untuk
serangan mikroba selanjutnya. Allicin yang diproduksi terlalu
banyak justru dapat berbahaya bagi jaringan dan enzim tanaman itu.
Beberapa orang lebih memilih suplemen
bawang putih. Pil dan kapsul bawang putih memiliki keuntungan tidak memiliki
bau bawang putih yang menyengat. Namun, produk-produk itu tidak
mengandung allicin. Serbuk kering bawang putih hanya berisi allinase
dan alliin. Pada berat setara, bubuk bawang putih kering memiliki
kadar alliin tiga kali lebih banyak daripada bawang putih segar.
Untuk mempertahankan allinase yang sensitif terhadap asam lambung
(sehingga alliin dapat dikonversi menjadi allicin),
bubuk bawang putih kering biasanya dilapisi kapsul yang melindungi dari asam
lambung, sehingga allicin dapat diproduksi di dalam usus.
·
Dialil
sulfida
Dialil
sulfida adalah komponen
lain pada bawang putih yang bermanfaat untuk kesehatan, meskipun tidak sekuat allicin. Dialil
sulfida adalah hasil dekomposisi allicin, sehingga lebih stabil
daripada allicin. Daya aktifnya tidak menurun dengan cepat dan dapat bertahan
setelah dimasak.
Dialil
sulfida tidak memiliki
sifat anti-jamur seperti allicin. Namun, zat ini dilaporkan baik
untuk sirkulasi darah, membantu menurunkan tingkat kolesterol buruk dan
meningkatkan sistem kekebalan tubuh.Dialil sulfida bermanfaat untuk
detoksifikasi sel-sel, sehingga mencegah kerusakan sel-sel hati, usus dan
saraf. Dengan mendukung kegiatan detoksifikasi pada hati, dialil
sulfida dapat melindungi hati selama kemoterapi. Bawang putih dapat
mencegah perkembangan kanker kolorektal dan penyakit kardiovaskuler. Beberapa
studi menunjukkan bahwa dialil sulfida-lah yang terutama
bertanggung jawab untuk tindakan tersebut.
Bukti Ilmiah
Para
dokter di Austria merekomendasikan bawang putih sebagai tambahan selain obat
untuk para pasien hipertensi. mereka juga telah melakukan uji coba kepada 50
pasien hipertensi untuk mengonsumsi suplemen bawang putih.Hasilnya,
pasien yang mengonsumsi empat kapsul ekstrak bawang putih setiap hari memiliki
tekanan rendah dibandingkan dengan pasien yang mengonsumsi pil plasebo (pil
yang memiliki zat aktif). Sebelumnya, penelitian juga telah membuktikan bahwa
ekstrak bawang putih efektif menurunkan kadar kolestrol dan tekanan darah
tinggi pada pasien hipertensi yang tidak tertangani.
Kandungan
Allicin dan Aliin berkaitan dengan daya antikolesterol. Bawang putih memiliki
kandungan ajoene, zat antikoagulan darah sehingga khasiat antikolesterol makin
kuat. Kemampuan ini membuat bawang putih berkhasiat mencegah penyakit jantung
koroner dan menurunkan tekanan darah tinggi yang diakibatkan kadar kolesterol
darah yang meningkat. Allicin juga memiliki kemampuan menyerap lemak. Beberapa
penelitian praklinik pada hewan menunjukkan bahwa ada 3 kelompok sulfur pada
bawang putih yang mampu menghambat hingga 50% produksi kolesterol tubuh. Ketiga
kelompok sulfur tersebut adalah S-ally cysteine, S-ethyl cysteine, dan S-propyl
cysteine.
2 komentar:
Mohon penjelasannya mengapa terlalu lama kontak dengan bawang putih dapat menyebabkan iritasi kulit? Terima kasih
Informasi yang sangat bermanfaat...
Posting Komentar